Laman

Sabtu, 29 Januari 2011

Pendidikan Kualifikasi Guru dalam Jabatan

A.  Latar Belakang
Undang-undang  Republik  Indonesia  Nomor  14  Tahun  2005  tentang  Guru  dan Dosen  telah  mengamanatkan  bahwa  guru  wajib  memiliki  kualifikasi  akademik, kompetensi,  sertifikat  pendidik,  sehat  jasmani  dan  rohani,  serta  memiliki  kemampuan untuk  mewujudkan  tujuan  pendidikan  nasional  (pasal  8);  Kualifikasi  akademik sebagaimana  dimaksud  dalam  pasal  8  diperoleh  melalui  pendidikan  tinggi  program sarjana  atau  program  diploma  empat  (pasal  9);  dan  Kompetensi  guru  sebagaimana dimaksud  dalam pasal 8 meliputi  kompetensi  pedagogik,  kompetensi  kepribadian, kompetensi sosial,  dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (pasal  10). Selanjutnya ditegaskan bahwa: guru yang belum memiliki kualifikasi akademik dan  sertifikat  pendidik  wajib  memenuhi  kualifikasi  akademik  dan  sertifikat pendidik paling lama sepuluh tahun sejak berlakunya undang-undang ini (pasal 82 ayat 2). Konsekuensi logis dari  pemberlakuan undang-undang tersebut, pemerintah dan penyelenggara pengadaan tenaga  kependidikan atau Lembaga Pendidikan  Tenaga Kependidikan  (LPTK)  yang  terakreditasi  diharapkan  dapat  memfasilitasi  pelaksanaan program percepatan peningkatan kualifikasi akademik guru dengan akses yang lebih luas, berkualitas dan tidak mengganggu tugas serta tanggung jawabnya di sekolah.  
Sementara  itu  jumlah  guru dari  berbagai  satuan pendidikan (TK, SD, SMP,  SMA, SMK,  dan  SLB)  yang  harus  ditingkatkan  kualifikasi  akademiknya  mencapai  1.456.491 orang  atau  63%  dari  jumlah  guru  yang  ada  di  Indonesia,  di  luar  guru  yang  di  bawah pengelolaan Departemen Agama (RA, MI, MTs, MA, dan MAK). Pada satuan pendidikan TK,  jumlah guru yang harus ditingkatkan kualifikasinya sebanyak 155.661 atau 89% dari jumlah  guru  TK  yang  ada.  Pada  satuan  pendidikan  SD,  jumlah  guru  yang  harus ditingkatkan  kualifikasinya  sebanyak  1.041.793  atau  83%,  jumlah  guru  pada  satuan pendidikan  SMP  yang  harus  ditingkatkan  kualifikasinya  sebanyak  185.603  atau  38%; jumlah  guru    pada  satuan  pendidikan  SMA  yang  harus  ditingkatkan  kualifikasinya sebanyak  34.547  atau  15%  dan  pada  satuan  pendidikan  SMK,  jumlah  guru  yang  harus ditingkatkan  kualifikasinya  sebanyak  33.297  atau  21%    serta  pada  satuan  pendidikan SLB,  jumlah  guru  yang  harus ditingkatkan  kualifikasinya  sebanyak  5.590  atau  55%  dari jumlah  guru  SLB  yang  ada  (Direktorat  Profesi  Pendidik    Ditjen  PMPTK  Depdiknas Tahun  2007).  Dari  1.456.491   orang  guru  yang  belum  memiliki  kualifikasi    S-1  tersebut terdiri atas   10.69%   guru  TK,  71.53%   guru SD,  12.74% guru SMP, 2.37%  guru   SMA dan 2.29% guru SMK serta 0.38% guru SLB.
Beberapa  upaya  telah  dilaksanakan  dalam  rangka  percepatan  peningkatan kualifikasi  guru  dalam  jabatan,  antara  lain  pada  tahun  2006,  sejumlah  18.754  guru ditingkatkan kualifikasinya ke  S-1 melalui: (1) UT program (12.616 orang), (2) APBNP-jalur  formal konvensional (5.000  orang),  (3) PJJ berbasis  ICT  (1.000 orang), dan  (4)  PJJ berbasis  KKG  (1.500).  Tahun  2007  sebanyak  170.000  orang  guru  dari  berbagai  satuan pendidikan  mendapat  bantuan  biaya  pendidikan  melalui  dana  dekonsentrasi  ke  Dinas Pendidikan  Provinsi.  Sekalipun telah dilaksanakan upaya tersebut, hingga saat ini  jumlah guru  yang  harus  ditingkatkan  kualifikasi  akademiknya  masih  cukup  banyak  sehingga  diperlukan alternatif lain untuk mengatasinya. Program  percepatan  peningkatan  kualifikasi  akademik  guru  menjadi    S-1  di Indonesia  telah  dilaksanakan  oleh  berbagai  perguruan  tinggi,  baik  melalui  pendidikan tatap  muka (konvensional)  maupun pendidikan jarak jauh.
Upaya  percepatan  peningkatan  kualifikasi  akademik  guru  pada  semua  satuan pendidikan tidak mungkin tercapai hanya dengan  sistem penyelenggaran pendidikan guru yang  ada  saat  ini.  Solusi  alternatif  yang  ditawarkan  dalam  penyelenggaraan  pendidikan sarjana (S-1) yang  memungkinkan guru memiliki  kesempatan  lebih  luas  dengan  tidak mengganggu tugas dan tanggung jawabnya adalah penyelenggaraan   Program Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru dalam Jabatan. Program ini diharapkan dapat mewujudkan sistem  penyelenggaraan  pendidikan  guru  yang  efisien,  efektif,  dan  akuntabel  serta menawarkan akses layanan pendidikan  yang lebih luas tanpa mengabaikan kualitas
Tujuan Penyelenggaraan
Program  Sarjana  (S-1)  Kependidikan  bagi  Guru  dalam  Jabatan adalah  suatu  program  penyelenggaraan  pendidikan  yang  secara  khusus  diperuntukkan  bagi  guru dalam  jabatan.  Program  ini  dilaksanakan  oleh  penyelenggara  pengadaan  tenaga kependidikan yang dalam proses perkuliahannya menggunakan pendekatan dual mode melalui  pengintegrasian  sistem  pembelajaran  konvensional  (tatap  muka  di  kampus) dan sistem pembelajaran mandiri. Penyelenggaraan  program  ini  bertujuan  untuk  mendukung  upaya  percepatan peningkatan kualifikasi akademik  bagi  guru dalam jabatan sesuai dengan  persyaratan yang  tertuang  dalam  Undang-undang  Republik  Indonesia  Nomor  14  Tahun  2005 tentang Guru dan Dosen
Kurikulum      
Kurikulum  yang  digunakan  dalam  Program  Sarjana  (S-1)  Kependidikan  bagi  Guru  dalam  Jabatan  adalah  kurikulum  yang  berlaku  di  masing-masing  peguruan tinggi    penyelenggara.  Standar  Kompetensi  Lulusan  (SKL)  yang  menjadi  acuan kurikulum  mengacu  pada  Permendiknas  Republik  Indonesia  Nomor  16  Tahun  2007 tentang  Standar  Kualifikasi  Akademik  dan  Kompetensi  Guru,  yang  meliputi  empat kompetensi utama, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. 
Dalam  implementasinya,  kurikulum Program  Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru  dalam  Jabatan  perlu  didesain  dengan  tepat  sehingga  memungkinkan  adanya kelompok  mata  kuliah  yang  dilaksanakan  melalui  kegiatan  pembelajaran  tatap  muka di  kampus  dan  kelompok  mata  kuliah  yang  bisa  dilaksanakan  melalui  kegiatan pembelajaran mandiri (self-instruction), baik dengan tutorial maupun tanpa tutorial. 
Penetapan  kelompok  mata  kuliah  tatap  muka  di  kampus  didasarkan  atas pertimbangan  bahwa  mata  kuliah  tersebut  mensyaratkan  adanya  praktik  atau praktikum  atau  mata  kuliah  lain  yang menurut pertimbangan perguruan  tinggi penyelenggara  harus  dilaksanakan  melalui  perkuliahan  tatap  muka.  Penetapan kelompok  mata  kuliah  melalui  pembelajaran  mandiri  dengan  layanan  tutorial  adalah mata  kuliah  yang  menuntut  kemampuan  berpikir  tingkat  tinggi  dan  untuk pengembangan  kompetensi  profesional.  Penetapan  kelompok  mata  kuliah  melalui pembelajaran  mandiri tanpa tutorial  didasarkan atas pertimbangan bahwa mata kuliah tersebut  dapat  dipelajari  secara  mandiri  oleh  mahasiswa,  baik    secara  perorangan maupun  kelompok. 
 Proporsi  setiap  kelompok  mata  kuliah  dianjurkan  menggunakan  pola  sebagai berikut:  30%  untuk  kelompok  mata  kuliah  yang  dilaksanakan  melalui  kegiatan pembelajaran  tatap muka dan 70% pembelajaran mandiri  (40% pembelajaran mandiri dengan  tutorial,  dan  30%  pembelajaran  mandiri    tanpa  tutorial).  Penentuan  mata kuliah pada ketiga kelompok tersebut diputuskan oleh lembaga penyelenggara melalui surat keputusan rektor. Berkaitan  dengan  beban studi  (satuan  kredit  semester)  dan lama  program  yang harus  ditempuh  disesuaikan  dengan  latar  belakang  pendidikan  calon  mahasiswa dengan  mengacu  pada  Surat  Keputusan  Mendiknas  Republik  Indonesia  Nomor 234/U/2000 sebagaimana terdapat pada tabel berikut:  

Tabel-1 Beban Studi   Program Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru dalam Jabatan
No.    Latar Belakang Pendidikan              Beban Studi (sks)
1.      SLTA sederajat                               144-160
2.      Kependidikan*)
         D-1                                                110-120
         D-2                                                70-80
         D-3                                                40-50
3.      Non Kependidikan**)
         D-1                                                110-120
         D-2                                                70-80
         D-3                                                40-50
 
Proses Pembelajaran
Perbedaan yang esensial antara Program Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru dalam  Jabatan  dengan  program  reguler  pada  hakikatnya  terdapat  dalam  pelaksanaan atau  proses  pembelajaran.  Proses  pembelajaran  dalam  Program  Sarjana  (S-1) Kependidikan  bagi  Guru  dalam  Jabatan  dilaksanakan  melalui  pengintegrasian kegiatan  perkuliahan/pembelajaran  tatap  muka  di  kampus  dan  atau  perkuliahan termediasi  dan  kegiatan  pembelajaran  mandiri.  Pembelajaran  mandiri  dilaksanakan dengan tutorial dan atau tanpa tutorial. Kegiatan  pembelajaran Program  Sarjana  (S-1)  Kependidikan  bagi  Guru  dalam Jabatan  ini  dilaksanakan  secara  tersendiri,  dalam  arti  tidak  boleh  dilakukan  secara bersama-sama dengan kegiatan pembelajaran kelas reguler.
Perkuliahan  termediasi  adalah  proses  interaksi  terjadwal  antara  dosen  dan mahasiswa  dalam  mencapai  tujuan/kompetensi  melalui  pemanfaatan  berbagai jenis media dan teknologi. Waktu  perkuliahan  diatur  oleh  perguruan  tinggi    penyelenggara  yang memungkinkan  tidak  mengganggu  tugas  dan  tanggung  jawab  guru  di  sekolah. Untuk  itu  perguruan  tinggi    penyelenggara  harus  dapat  mengatur  waktu perkuliahan  tatap  muka  sesuai  dengan  situasi  dan  kondisi  setempat,  misalnya: pada  sore  hari,  pada  saat  liburan,  atau  memanfaatkan  hari  sabtu  dan  minggu. Penetapan  waktu  perkuliahan  tersebut  tidak  keluar  dari  aturan  tentang jumlah pertemuan  minimal  perkuliahan  tatap  muka  yang  sama  dengan  kelas  reguler, yaitu: 12-16 kali pertemuan.
Rekrutmen Mahasiswa   
Mengingat tujuan penyelenggaraan Program Sarjana (S-1) Kependidikan bagi Guru  dalam  Jabatan adalah untuk mendukung upaya percepatan peningkatan kualifikasi  akademik  bagi  guru  dalam  jabatan,  maka  proses  penerimaan  mahasiswa baru perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.  Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru
Sistem  penerimaan  calon  mahasiswa  dilakukan  melalui  prosedur  seleksi yang  kredibel  sesuai  dengan  persyaratan  akademik  dan  persyaratan  administratif yang berlaku pada masing-masing perguruan tinggi penyelenggara.perguruan tinggi penyelenggara dapat melakukan proses  rekrutmen mahasiswa sebanyak-banyaknya 2 (dua)  kali dalam satu tahun akademik.
b.  Kriteria Calon Mahasiswa 
Sesuai  dengan  tujuannya,  calon  mahasiswa  Program  Sarjana  (S-1) Kependidikan bagi  Guru dalam Jabatan adalah guru tetap yang berstatus PNS dan bukan  PNS  yang  bertugas  mengajar  TK/RA,  SD/MI,  SMP/MTs,  SMA/MA, SMK/MAK, dan SLB. 
Guru  PNS  (Pegawai  Negeri  Sipil)  dibuktikan  dengan  fotocopy  SK Pengangkatan yang dilegalisasi Pemerintah Daerah (Badan Kepegawaian  Daerah), sedangkan guru yang bukan PNS harus memiliki surat pengangkatan (SK) sebagai guru  tetap  yayasan  atau  surat  pengangkatan  (SK) sebagai guru  dari  Pemerintah Daerah,  yang  dibuktikan  dengan  fotocopy  SK  pengangkatan  yang  dilegalisasi.
Khusus untuk guru bukan PNS, diharuskan  melampirkan  surat  pernyataan bermaterai  yang  isinya  tidak menuntut diangkat sebagai pegawai  negeri  sipil (PNS). Calon mahasiswa harus  melampirkan  Surat Ijin Belajar dari Dinas Pendidikan atau badan hukum penyelenggara pendidikan.
c.  Pemilihan Program Studi
Program  studi  yang  dipilih  oleh  calon  mahasiswa  harus  sesuai  dengan  mata pelajaran  yang  diampu atau sesuai/serumpun dengan latar belakang pendidikan sebelumnya. Bagi calon mahasiswa  lulusan  SLTA  sederajat,  atau  lulusan D1/D2/D3.  Program  studi  yang  dipilih  harus  sesuai  dengan  latar  belakang pendidikan  guru  sebelumnya  yang  dibuktikan  dengan  fotocopy  ijazah  dan transkrip  nilai  yang  telah  dilegalisasi  oleh  lembaga asal  atau  sesuai  dengan  mata pelajaran  yang  saat  ini  diampu  minimal  lima  tahun  terakhir. Bagi  guru  yang berasal  dari    SLTA  sederajat,  fotocopy  ijazah  dapat  dilegalisasi  oleh  Dinas Pendidikan setempat. 
Mengacu pada   peningkatan capaian mutu hasil  pendidikan, bagi guru kelas yang  mengajar  di  TK diharuskan memilih program studi S-1 PGTK/PGPAUD dan bagi  guru  kelas  yang mengajar  di  SD  diharuskan  memilih  program studi  S-1 PGSD.  Untuk guru TK dan SD  yang mengajar mata  pelajaran Bahasa Inggris dan Agama dapat melanjutkan ke program studi yang sesuai. (Penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa guru bidang studi yang mengajar pada jenjang SD/MI harus mengikuti pendidikan kualifikasi (s-1) pada program studi sesuai dengan bidang studinya. Guru Penjasorkes merupakan salah satu guru bidang studi yang terdapat di jenjang Sekolah Dasar/Madrasyah Ibtidaiyah, harus mengikuti pendidikan kualifikasi pada program studi yang sesuai dengan bidangnya, dalam hal ini di Provinsi Aceh hanya ada Program Studi Penjaskesrek FKIP Unsyiah, yang telah memiliki :
1.  Izin penyelenggaraan pertama sesuai Kepmendikbud Nomor 0534/0/1983 tanggal 8 Desember 1983 dengan nama Program Studi : Pendidikan Olahraga dan Kesehatan dibawah naungan Jurusan Ilmu Pendidikan
2. Berubah nama sesuai dengan SK Ditjen Dikti Depdikbud Nomor 207/dikti/kep/1996 tanggal 11 Juli 1996 perubahan nama Prodi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan menjadi Prodi Penjaskesrek tetap dibawah naungan Jurusan Ilmu Pendidikan
3. Selanjutnya peningkatan status prodi menjadi Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan sesuai dengan SK Rektor Nomor : 025 Tahun 2003 tanggal 8 Januari 2003 dengan Program Studi Penjaskesrek berubah kembali menjadi Program Studi SK Rektor Nomor :463 Tahun 2009 melalui surat keputusan pengangkatan ketua program studi
4. Perpanjangan Izin Penyelenggaraan SK Nomor :145/DIKTI/KEP/2007 Tanggal : 21 September 2007
5. Akreditasi Program Studi Penjaskesrek FKIP Unsyiah berdasarkan keputusan BAN PT Nomor : 005/BAN-PT/Ak-X/S1/VI/2006 Tentang Hasil dan Peringkat Akreditasi Program Studi untuk Program Sarjana di Perguruan Tinggi, dengan sertifikat akreditasi Nomor : 08746/Ak-X-S1-005/USNPWJ/VI/2006 dengan peringkat B (Baik) berlaku sejak tanggal 15 Juni 2006 s.d 15 Juni 2011. (lihat http://www.penjaskesrek-fkip-unsyiah.blogspot.com)
Sertifikat Akreditasi Program Studi dari BAN-PT

Guru  mata pelajaran yang mengajar di SMP/SMA/SMK, dapat melanjutkan studi  sesuai  dengan  latar  belakang  pendidikan  sebelumnya  atau  sesuai  dengan mata  pelajaran  atau  rumpun  mata  pelajaran  yang  diampu  dengan  syarat  minimal telah mengajar lima tahun pada mata pelajaran tersebut.
Pendanaan
Penyelenggaraan Program Sarjana (S-1)  Kependidikan bagi  Guru dalam Jabatan akan dapat berlangsung  dengan  baik  bila didukung ketersediaan dana yang memadai. Pendanaan  program  ini  dapat  berasal  dari  mahasiswa  (swadana),  kerjasama  dengan pemerintah  daerah  (stakeholders)  dan  sumber  lainnya.  Pengelolaan  dana  dilakukan secara terintegrasi dengan pengelolaan  dana lainnya  sesuai  dengan aturan  yang ada di perguruan tinggi  penyelenggara.
Perguruan Tinggi Penyelenggara
Program studi sarjana (S-1) kependidikan yang terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional  Perguruan  Tinggi  (BAN-PT)  dengan nilai minimal B, kecuali untuk program studi sarjana  (S-1) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)/pendidikan guru  taman  kanak-kanak (PGTK)/ pendidikan guru pada anak usia dini (PGPAUD) memiliki ijin penyelenggaraan  dari  Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar